Sebuah SD di Liaoning digabung karena penurunan tajam jumlah murid, menimbulkan perhatian dan refleksi masyarakat.
Hua, kamu lihat berita tentang SD Shenjingzi belum? Baru sebulan masuk sekolah, tapi sudah ditutup. Sekolah dengan sejarah 61 tahun hilang begitu saja.
Aku lihat, benar-benar mendadak ya. Anak-anak baru saja menyesuaikan diri dengan semester baru, sekarang harus pindah sekolah. Orang tua pasti kaget juga.
Tanggapan dari dinas pendidikan juga agak dingin. Mereka bilang, ‘Jumlah anak usia sekolah menurun, jadi penggabungan itu hal wajar.’ Tapi bukankah ini sebenarnya krisis populasi?
Iya. Sekarang tingkat kelahiran di Timur Laut rendah dan banyak orang pindah ke selatan. Beberapa orang tua muridku juga berencana pindah. Sayang sekali, sekolah lama seperti Shenjingzi punya banyak kenangan bagi masyarakat.
Ini bukan cuma masalah emosional, tapi juga praktis. Bayangkan, ada 18 guru! Meskipun mereka pegawai tetap, penempatan ulangnya tidak mudah.
Sebagai guru aku sangat mengerti. Dipindah tiba-tiba dari lingkungan yang sudah dikenal pasti berat. Ada yang mungkin ditempatkan di sekolah jauh atau bahkan menunggu penugasan sementara.
Menurutku pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan ‘penggabungan sekolah’ untuk mengatasi masalah jumlah murid. Harus dilihat secara sistematis — kebijakan populasi, alokasi sumber daya, misalnya layanan bus sekolah atau pembagian zona belajar yang fleksibel.
Benar, pendidikan bukan sekadar mempertahankan jumlah, tapi juga kualitas dan keadilan. Kalau tidak, itu artinya ‘menghemat gedung sekolah tapi mengorbankan anak-anak’.
Mengapa memilih aplikasi ini
Tanya AI, putar ulang audio, simpan kosakata, dan pantau progresmu
Tersedia 1.000+ dialog dan 500+ artikel Easy Mandarin News.
Gunakan fitur ulang, atur kecepatan audio, dan simpan kata ke flashcard.
Dapatkan penjelasan instan tentang tata bahasa dan struktur kalimat.