Pemerintah Korea Selatan, di bawah tekanan ekonomi dan diplomatik, membatasi unjuk rasa anti-Tiongkok, menyoroti tarik-menarik antara populisme dan rasionalitas.
Guru, belakangan ini Korea Selatan melarang unjuk rasa anti-Tiongkok di Myeongdong, bahkan melarang menghina turis. Rasanya tiba-tiba sekali.
Tiba-tiba? Sebenarnya tidak. Lee Jae-myung menyebutnya 'kerusuhan', dan polisi segera bertindak. Ini adalah hasil gabungan tekanan politik dan ekonomi.
Saya membaca laporan bahwa para pedagang bersama-sama memprotes karena unjuk rasa merugikan bisnis mereka. Ternyata pertimbangan ekonomi adalah kuncinya.
Benar sekali. 'Saat sandang pangan tercukupi, orang tahu arti kehormatan.' Kepentingan ekonomi sering lebih meyakinkan daripada slogan politik. Jika turis Tiongkok berhenti datang, distrik bisnis Myeongdong tidak bisa bertahan.
Apakah ini berarti pemerintah Korea Selatan mulai pro-Tiongkok?
Tidak bisa dipahami begitu. Ini lebih mirip kembali ke rasionalitas. Negara yang matang tidak akan membiarkan emosi ekstrem membajak ruang publik. Lee Jae-myung hanya memilih jalan yang lebih pragmatis.
Pragmatisme ini mengingatkan saya pada kebijaksanaan kuno Tiongkok tentang 'Jalan Tengah'. Bukan sepenuhnya mengikuti satu pihak, melainkan mencari keseimbangan di tengah pertentangan.
Bagus sekali. Jalan Tengah bukan kompromi, melainkan keseimbangan dinamis. Langkah Korea Selatan ini menjaga citra diplomatik sekaligus menanggapi realitas ekonomi—benar-benar 'menilai situasi dengan bijak'.
Mengapa memilih aplikasi ini
Tanya AI, putar ulang audio, simpan kosakata, dan pantau progresmu
Tersedia 1.000+ dialog dan 500+ artikel Easy Mandarin News.
Gunakan fitur ulang, atur kecepatan audio, dan simpan kata ke flashcard.
Dapatkan penjelasan instan tentang tata bahasa dan struktur kalimat.