Di industri teknologi, istilah “kognisi” menjadi populer untuk menjelaskan kesuksesan, kegagalan, dan pilihan karier.
Belakangan ini di perusahaan semua orang membicarakan “kognisi”. Ada yang bilang, apakah bisa menghindari PHK bukan hanya soal kerja keras, tapi juga apakah punya “kognisi” yang lebih tinggi.
Saya juga sering dengar istilah ini. Awalnya istilah psikologi, sekarang banyak dipakai untuk menjelaskan kenapa seseorang sukses atau gagal.
Benar. Misalnya perkembangan AI sangat cepat, ada yang langsung belajar hal baru, ada yang tetap sama. Lalu orang bilang itu “kesenjangan kognisi”.
Cara berpikir ini juga berkaitan dengan perubahan di Tiongkok beberapa tahun terakhir. Di era dan peluang yang sama, hasil tiap keluarga berbeda, jadi orang lebih percaya bahwa “kognisi menentukan pilihan”.
Bos di perusahaan kami juga sering bilang jangan hanya bekerja, tapi lihat masalah dari perspektif yang lebih tinggi. Beberapa rekan kerja membaca buku dan berita industri setelah kerja untuk meningkatkan “kognisi”.
Namun, kalau semua kegagalan orang lain disebut karena “kognisi kurang”, menurut saya itu tidak adil. Kadang bukan karena kurang usaha, tapi lingkungan berubah terlalu cepat.
Betul. Saya punya teman yang sangat serius bekerja, tapi ketika bisnis perusahaan berubah, dia tetap kena PHK. Lalu ada yang bilang dia “kurang kognisi”, dan itu membuatnya sangat sedih.
Jadi menurut saya, “kognisi” bisa membantu kita refleksi diri, tapi tidak bisa jadi jawaban untuk semua hal. Kalau hanya melihat “kognisi”, masalah kompleks jadi terlalu disederhanakan.
Mengapa memilih aplikasi ini
Tanya AI, putar ulang audio, simpan kosakata, dan pantau progresmu
Tersedia 1.000+ dialog dan 500+ artikel Easy Mandarin News.
Gunakan fitur ulang, atur kecepatan audio, dan simpan kata ke flashcard.
Dapatkan penjelasan instan tentang tata bahasa dan struktur kalimat.